Arti Sahabat

21 01 2011

Aku tak pernah tahu anak yang duduk di bangku paling depan itu adalah anak dari keluarga kurang mampu. Aku bahkan tidak pernah membayangkan kalau aku bisa punya teman sekelas yang kurang mampu. Setidaknya, sekolahku ini sekolah elit. Sekolahnya orang-orang kaya. Sebuah sekolah menengah atas bergengsi.

Jika ditanya, apakah aku orang kaya, bisa dibilang begitu. Hidupku penuh dengan kemewahan. Orangtuaku tidak pernah berkata tidak jika aku menginginkan sesuatu. Aku dan abangku tidak pernah merasa kekurangan dalam hidup ini. Bisa dikata, kami tidak pernah mengalami masa-masa sulit atau kesusahan dalam bentuk materi.

Namanya adalah Eka. Eka Haryanti. Seorang anak yang pandai, tapi tak terlalu menonjol di antara kelompok-kelompok anak populer. Bajunya sedikit pudar, dan aku hanya menyangka mungkin mesin cuci di rumahnya rusak. Sepatunya sudah lusuh, tapi kukira mungkin sepatunya terjepit pintu mobilnya pagi ini.

Aku masuk kelas sambil berlari-lari. Napasku terengah-engah seperti habis lari dikejar hantu tanpa kepala. Dua teman dekatku, Sophie dan Melanie, menatapku heran sambil mendekatiku.

“Ada apa, Deb?” tanya Melanie. Aku hanya menghela sambil melemparkan tasku ke atas meja.

“Supirku,” jawabku sambil mengatur napas. “Sudah kubilang, jangan lewat jalan itu. Jadinya kena macet deh… Tapi tak apalah.”

“Kenapa kamu ga turun trus minta jemput mobil lain?” tanya Sophie. Ya, aku memang punya banyak mobil.

“Mobil-mobilku dipake semua,” kataku. Sedetik kemudian aku melirik ke deretan bangku paling depan. Satu bangku kosong. Biasanya, anak-anak meninggalkan tas mereka di meja jika mereka ingin nongkrong dulu. Toh, sekarang ini sudah pukul tujuh kurang lima menit menurut jam tanganku. “Siapa yang tidak masuk?”

“Entah,” kata Sophie sambil menggeleng. Wajarlah, kami tidak begitu peduli pada anak-anak yang kurang popular.

“Eka,” jawab Melanie. “Ah, sudahlah. Tak penting juga kita peduli sama dia. Dia kan bukan teman kita.”

Aku mengangguk ragu. Walaupun aku tak begitu dekat dengan dia, setidaknya aku tahu kalau anak itu anak yang rajin. Ia tak pernah bolos, dan tidak masuk dengan alasan sakit pun hanya sekali dua kali.

Bukan pagi yang cerah hari ini. Hujan turun rintik-rintik sedari pagi. Tapi bukan masalah bagiku, karena aku punya supir yang mengantarku dari rumah mewahku hingga ke sekolah dan juga pembantu yang rela memayungiku hingga ke kelas.

Kulirik meja deretan paling depan itu lagi. Sama kosongnya dengan hari kemarin. Tak ada tanda-tanda Eka dimana-mana. Aku tidak peduli, hingga guruku masuk kelas. Beliau duduk di meja guru, meletakkan tasnya, kemudian mengabsen kami. Satu per satu nama kami dipanggil.

“Debora Naomi?”

“Ya,” kataku sambil mengangkat tangan.

Bu Bertha melanjutkan mengabsen hingga sampai pada nama “Eka Haryanti” dan beliau berhenti sejenak. “Eka Haryanti?” ulangnya.

“Absen, Bu,” kata anak-anak lainnya. Aku hanya diam saja, sibuk bercanda dengan Melanie dan Sophie di pojok ruangan.

“Bukan biasanya dia absen tanpa ijin seperti ini,” kata Bu Bertha. “Debora, bukannya kamu dua kali sekelas dengannya? Apakah kamu tahu dimana dia?”

Hatiku mencelos. Aku memang sekelas dengannya ketika kelas sepuluh dan kelas sebelas ini, tapi peduli apa aku dengannya? Aku kan bukan teman baiknya. “Tidak tahu, Bu,” jawabku.

“Baiklah kalau begitu,” kata Bu Bertha.

Pulang sekolah, aku, Melanie, dan Sophie memutuskan untuk jalan-jalan di mall. Mereka akan ikut dengan mobilku. Kami bercanda-canda sepanjang perjalanan sementara mobil keren warna merahku melaju cukup cepat. Kami berhenti di lampu merah sebuah perempatan. Beberapa pengamen jalanan mendatangi mobil-mobil dengan gesitnya. Seorang perempuan mendekati mobilku sambil memainkan gitar kecilnya dengan asal-asalan.

Aku mendesah sambil membuka jendela mobil. Kuulurkan selembar uang sepuluh ribuan ketika terdengar teriakan keras dari Melanie. “Eka?! Eka, kan?”

Aku terperanjat sambil melihat kepada siapa aku memberikan uang. Itu memang Eka. Ya, Eka teman sekelasku. Kulitnya yang memang sudah coklat, kini bertambah lebih gelap lagi. Wajahnya bersimbah keringat, dan pakaiannya sudah sangat dekil sekali. Sebelum kami sempat berkata apa-apa lagi, Eka sudah kabur tanpa mengambil uang yang sudah aku sodorkan.

“Aku tidak salah lihat, kan? Itu Eka Haryanti? Eka teman sekelas kita?” tanya Melanie bertubi-tubi. “Sungguh memalukan! Aib luar biasa!”

“Sudahlah, Melanie… Mungkin Eka punya alasan yang tepat untuk melakukan semua itu,” kata Sophie bijak. “Toh, dia tidak menyakiti kita, kan?”

Aku mengangguk, mengiyakan omongan Sophie. Tapi Melanie sepertinya tidak sependapat denganku dan Sophie. Dia hanya diam-diam saja menanggapi komentar positifku.

Ternyata Eka sudah masuk sekolah keesokan harinya. Aku berangkat sangat pagi-pagi sekali, karena aku ingin bicara dengan Eka. Dia sudah ada di kelas, duduk dengan kepala menunduk. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Tenang aja, aku toh ga akan ngomongin hal-hal jelek tentang hal kemarin,” kataku pelan. “Anggap aja peristiwa yang kemarin ga pernah terjadi.”

“Bener?”

“Yap.”

Aku tak berani bertanya kenapa ia melakukan hal tersebut. Bagiku semuanya akan baik-baik saja kalau tetap seperti ini saja. Eka tersenyum. Aku juga tersenyum.

Tapi segalanya berubah ketika Melanie sudah dating dan berkoar-koar di depan kelas.

“Eh, teman-teman! Tau nggak, ternyata di kelas ini ada yang punya pekerjaan sambilan lho!” katanya keras, bagaikan mengumumkan ada pesta besar di rumahnya. Aku terpaku di tempatku, sambil melotot kearah Melanie. Sophie menutup mulutnya dengan tangan.

Aku menggebrak meja. Biarpun Melanie adalah sahabat baikku, aku tidak bisa membiarkan dia berbuat sejahat ini pada Eka. “Melanie! Kamu ngomong apa, sih?” aku membentak dari mejaku. “Jangan bicara yang tidak-tidak.”

“Hus, kamu itu yang bicara apa! Kan kamu dan Sophie kemarin lihat sendiri kejadiannya. Iya kan, Sophie?” Melanie berkata semakin percaya diri. Kulirik Eka. Makin lama dia tertunduk.

“Siapa sih orangnya?” tanya Erik. “Bener-bener anak kelas ini?”

“Iya, siapa orangnya?” anak-anak lain turut penasaran.

“Melanie!” kataku memperingatkan.

“Eka Haryanti,” kata Melanie pelan-pelan, seolah-olah menikmati kata-kata itu. Tawa anak-anak membeludak. Semua pandangan menuju ke arah Eka yang sudah melelehkan air matanya.

“Jangan percaya Melanie,” kata Hendrik. “Bohong tuh!”

Melanie mengeluarkan ponselnya. Ponsel mewah keluaran terbaru tersebut dan menunjukkan pada semua anak. Aku menyeret Sophie mendekat, dan melihat potretku sendiri, sedang menyodorkan selembar uang kepada Eka kemarin ketika di perempatan. Aku tercengang. Sejak kapan anak ini mengambil foto ini?

Air mata Eka mengucur deras mendengar ejekan dari anak-anak yang begitu pedas. Aku ingin menutup telingaku mendengar ejekan-ejekan tersebut. Eka menghambur keluar dari kelas sambil menangis. Aku tak bisa menyusulnya, karena aku tak tega menganggunya. Aku menghampiri Melanie yang tersenyum puas di depan kelas.

“Kenapa sih kamu jahat banget?” bentakku. “Apa sih salah Eka ke kamu? Dia nyakitin kamu?”

“Apa urusan kamu? Toh, dia emang aib kan? Aib kayak itu gak boleh dibiarkan!” Melanie balas membentakku. “Kalau kamu bela dia, gak usah berteman sama aku lagi. Biarkan aku dan Sophie aja!”

“Kiramu aku mau berteman denganmu?” Sophie ikut-ikutan. “Maaf aja, aku ga mau berteman sama cewek arogan dan kasar kayak kamu.”

Aku dan Sophie berencana ingin membuntuti Eka sampai rumahnya pulang sekolah ini. Selama ini aku tak pernah tahu bahwa Eka harus naik angkot dua kali dan berjalan kaki kira-kira dua kilometer untuk mencapai rumahnya.

Aku dan Sophie tak kuasa melihat perkampungan tempat Eka tinggal. Kampung itu dekat sekali dengan tempat pembuangan sampah yang sangat besar. Bau busuknya menguar dimana-mana. Aku menutup hidungku dengan tissue. Tapi itu tetap saja tak mengurangi bau busuk sampah tersebut.

Eka berhenti di sebuah rumah triplek yang sudah nyaris roboh. Besarnya tak lebih dari kelas kami sendiri. Begitu Eka masuk, aku dan Sophie memutuskan untuk mengendap-endap mendekat. Terdengar suara batuk parah wanita paruh baya. Aku menyimpulkan itu suara batuk ibu Eka. Aku mengintip dari dinding papan yang berlubang-lubang itu.

Memang benar, ibu Eka sedang terbaring di kasur di tanah. Eka duduk di sebelahnya sambil mengusap badan ibunya dengan handuk basah. Ibunya terbatuk-batuk lagi. Sepertinya memang sakit parah.

“Kemana ayah Eka?” bisik Sophie di telingaku.

“Hus, ayah Eka sudah meninggal dari dulu,” kataku.

“Bu, yang sabar ya… Eka mau kerja dulu, cari duit untuk beli obat biar ibu cepat sembuh,” kata Eka dari dalam rumah. Hatiku benar-benar tersentuh.

“Makan dulu, Ka,” ibunya menjawab dengan suara lemah.

“Tadi sudah makan di sekolah, Bu,” kata Eka. Bohong besar. Aku tahu pasti seharian ini Eka hanya duduk lesu di bangkunya.

“Ya sudah kalau begitu,” kata ibunya. Eka tersenyum sambil berkata, “Eka pamit, Bu.”

Eka kemudian keluar dari ruangan tersebut, dan beberapa menit kemudian ia keluar dari rumah memakai pakaian seperti kemarin. Aku menyeret Sophie untuk mengikuti Eka sesaat.

“Tak kusangka hidup Eka sesusah itu,” kata Sophie sambil mengusap air matanya ketika kami sudah ada di kamarku. Pikiranku menerawang sesaat. “Kata-kata Melanie tadi di sekolah jahat banget, ya?”

“Ya iyalah… Kita harus membantu Eka untuk beli obat buat ibunya,” kataku. “Uang yang bener-bener dari kita sendiri, gak minta sama orangtua. Gimana?”

“Ide bagus sih. Tapi apa yang bisa dilakukan pelajar SMA kayak kita, coba? Mau kerja? Kerja apa?”

“Gimana kalau kita jual barang-barang kita yang gak dipakai lagi?” usulku.

“Ide bagus sih. Kita adakan garage sale aja!”

Hasil penjualan baju, tas, sepatu, mainan, dan barang-barang lain milikku dan Sophie ternyata cukup banyak juga. Kurasa cukup untuk diberikan kepada Eka. Walaupun barang-barangnya sudah cukup lama, tapi bermerk dan juga berkualitas tinggi kok.

Hari berikutnya, Sophie dan aku menjelaskan alasan kenapa Eka menjadi pengemis seperti tempo hari itu. Melanie terperanjat.

“Aduh! Kenapa kalian nggak minta bantuan ke aku sih?” kata Melanie. “Kalau tahu begini, aku nggak akan berbuat sejahat itu sama Eka…”

“Ya udah, sekarang kamu minta maaf aja sama Eka,” kataku. “Lebih bagus lagi kalau kamu ikutan nyumbang juga.”

“Iya deh.. Aku ngerasa bersalah banget…” kata Melanie. Ia mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribu dan mengulurkannya kepadaku.

Aku tersenyum padanya. “Oke, sekarang kita serahkan uang ini buat Eka.”

“Yap, mari kita pergi!” kata Sophie dengan ceria.

“Dan sekarang kita bertiga bersahabat lagi, ya? Hehehe…” kata Melanie.

“Siapa bilang?” sahut Sophie. “Kita kan nggak mau berteman sama cewek sombong yang arogan, iya kan, Deb?”

“Bener banget,” sambarku.

“Iya deh, mulai sekarang aku akan merubah sifat,” kata Melanie.

“Janji ya?”

“Janji!”

Menemukan Eka bukanlah satu hal yang sulit. Ia duduk sendirian di dalam kelas. Kami bertiga menghampirinya. Eka berpaling dari buku perpustakaan yang dibacanya. Ia memandang Melanie dengan ketus.

“Kenapa kalian? Mau mengejekku lagi?” tanyanya.

“Bukan,” kataku. “Kami mau mengantar Melanie.”

“Iya nih, Ka… Aku minta maaf banget ya, udah ngejek-ngejek kamu kemarin di depan kelas. Aku gak tahu motif kamu berbuat seperti itu,” kata Melanie sambil tertunduk. Mukanya merah seperti udang rebus. “Aku akan bersihin nama kamu deh…”

Eka tampak terperanjat sesaat. “M-Melanie?”

“Aku juga minta maaf, Ka… Kemarin aku sama Sophie udah buntutin kamu sampe rumah. Sekarang kami tahu alasan kamu ngelakuin itu… Kami punya sesuatu buat kamu,” kataku sambil menyodorkan amplop.

“Itu hadiah sekaligus permintaan maaf dari kami, Ka. Semoga cukup buat pengobatan ibu kamu. Semoga ibu kami cepat sembuh ya…” tambah Sophie.

Air mata Eka mengalir. Aku, Sophie, dan Melanie memeluknya.

“Terima kasih, teman-teman…” isaknya.

By: Verry Zainal


Actions

Information

4 responses

24 01 2011
annamariedestiana

tam keren ceritanya gak nyangka kalo persahabatan punya arti yang begitu besar di mata orang-orang

24 01 2011
TF

Yep, iya..🙂
thanks na, hehe

25 01 2011
xianc

keren tam

25 01 2011
TF

tq

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: