My Last Holiday

18 01 2011

Liburan kemarin saya tidak pergi keluar kota, hanya di Cirebon saja. Tapi saya punya kegiatan yang cukup melelahkan sekaligus menyenangkan. Saya berlatih Marching Band di sekolah setiap hari dari jam 1 siang hingga 8 malam. Saya berlatih ini untuk lomba yang diadakan di Jakarta. Suatu lomba yang sudah bertingkat nasional. Latihan ini diadakan 2 minggu sebelum hari H pun tiba. Memang latihan ini sangat dadakan sekali. Kami d persiapkan untuk lomba hanya dalam waktu 2 minggu. Sebelum-sebelumnya kami sudah latihan, tetapi hanya sekitar 1 bulan. Dan 2 minggu itu untuk mematangkan dan menambah materi-materi baru. Selama 2 minggu kami digembleng secara habis-habisan. Di bawah panas terik matahari. Hingga membuat saya semakin hitam. Haha.

Saya merasakan kuasa Tuhan pun turut hadir selama saya latihan. Ia memberikan kami kekuatan untuk latihan, dan juga membantu kami untuk menyerap materi yang  diberikan oleh pelatih. Sehingga kami semua dapat mengikuti latihan dengan lancar. Tetapi, ketika latihan teman saya ada yang mengeluh karena dia sudah mulai merasa lelah, pelatih tidak mengizinkan kami untuk minum atau istirahat sebelum jam 6. Saya sadar semua ini di lakukan untuk menghemat waktu. Melihat hari H yang semakin mendekat.

Latihan kami pun di selingi beberapa tawa dan candaan dari pemain lain, sehingga membuat kami lupa akan rasa capek kami selama latihan. Ya, saya beruntung dapat mengenal mereka orang baru yang ternyata mempunyai ‘sense of humor’ yang tinggi. Tetapi kami pun sadar kapan saatnya kami bercanda dan kapan saatnya kami harus serius.

Kekompakan, kerjasama, terasa banget dalam latihan ini. Apabila kita tidak kompak, bisa membahayakan. Karena kami saling mengandalkan satu sama lain dalam latihan ini.  Saya banyak belajar dalam latihan ini.

Ketika beristirahat, kami pergi untuk mencari makan di seberang sekolah. Ada yang menggunakan waktu istirahat mereka untuk Shalat, karena yang mengikuti kegiatan ini rata – rata beragama muslim. Saya salut kepada mereka, ketika di beri waktu istirahat mereka mau meluangkan waktu beribadah. Bahkan ada yang belum sempat makan sudah disuruh berlatih lagi. Mereka masih ingat untuk berdoa kepada Tuhan di tengah kesibukan mereka. Tanpa ada rasa terpaksa sama sekali. Mereka tulus berdoa dengan sepenuh hati. Itu terpancar dari wajah mereka.

Sekitar 1 minggu sebelum hari H, cuaca tidak mendukung. Hujan deras setiap malam. Yang menghambat latihan kami. Karena tempat yang kami gunakan adalah outdoor. Sehingga kita tidak bisa gunakan ketika hujan. Ketika kami sedang berteduh, saya melihat salah seorang pelatih kami. Ia tampak stress dan kebingungan. Entah apa yang ada dipikiran dia. Tetapi saya duga karena cuaca yang tidak mendukung kami untuk latihan padahal hari H semakin dekat. Saya sedih melihat pelatih itu. Ingin sekali rasanya membantu mencari jalan keluar. Tapi saya pun tidak bisa menemukan jalan keluarnya selama cuaca belum membaik. Saya hanya bisa berharap dan berdoa kepada Tuhan agar cuaca membaik. Apalah daya, cuaca pun tak kunjung membaik.

Ketika 1 hari sebelum hari H tiba. Saya dan kawan – kawan sibuk mengurus alat – alat yang akan kami bawa. Rencananya kami akan menyetrika bendera yang sudah kusut di rumah salah seorang teman kami. Dia mempunyai setrika uap sehingga pekerjaan kami semakin efektif. Tiba-tiba terdengar hujan deras. Sehingga kami harus membawa bendera – bendera tersebut dengan ditutupin karung, karena kami kerumah teman kami itu menggunakan motor. Ketika kami sampai, bendera yang kami bawa itu basah. Sehingga kami membagi tugas, ada yang menyetrika, dan ada yang mengeringkan bendera – bendera tersebut menggunakan hair dryer. Kami semua sangat dikejar dengan waktu, sehingga pekerjaan ini harus selesai sebelum jam 7 malam. Karena jam 8 malam kita harus sudah berkumpul disekolah bersiap untuk berangkat kejakarta.

Akhirnya pekerjaan kami pun selesai sebelum jam 8. Kami pulang kerumah masing – masing untuk mempersiapkan diri sebelum berangkat ke Jakarta. Saya hanya sempat mandi dan membereskan baju yang belum saya bereskan hari – hari sebelumnya. Yah itu lah kejelekan saya yang selalu menunda – nunda pekerjaan.

Kita berkumpul d sekolah jam 8 malam. Cuaca saat itu adalah hujan yang lumayan deras. 1 Bus ekonomi dan 1 elf milik sekolah sudah menunggu kami. Sebelum berangkat kami diberi pengarahan oleh pelatih. Dan kami doa bersama agar selamat sampai tujuan.

Saya dan kawan – kawan saya menaiki elf milik sekolah. Dan kawan saya yang lain menaiki bus ekonomi itu. Melihat kejadian ini, saya masih dapat bersyukur. Karena kami masih ada biaya untuk berangkat kesana. Meskipun sangat sederhana sekali.

Kita sampai disana sekitar jam 3 pagi. Sesampai di Jakarta, kita langsung menuju Istora Senayan untuk melihat arena lomba yang akan kita hadapi nanti siang. Saya merasa takjub melihat itu semua. Karena inilah pertama kalinya saya mengunjungi tempat ini. Lalu kita menginap di hotel khusus atlit yang bernama “Wisma.” Meskipun tempat nya sederhana, kami senang menerimanya. Karena kami masih dapat tidur dengan layak. Di kasur yang lumayan empuk dan ruangan yang sejuk.😀

Jam 8 pagi saya dibangungkan oleh seorang teman saya. Dia menyuruh saya untuk mandi karena kami akan berkumpul jam 9. Kamar mandi yang hanya tersedia 3 buah. Dipakai untuk sekitar 30 anak. Jadi kami pun harus mengantri untuk mendapat giliran mandi. Setelah semua sudah mandi. Kami segera memakai  kostum yang akan kita kenakan untuk lomba. Kami semua sibuk membantu sama lain untuk mengenakan kostum itu. Dan kami pun dibagi nasi kotak. Setiap anak mendapat jatah 1 kotak. Kami pun berjalan kaki dari wisma menuju tempat kami lomba. Jarak yang tidak terlalu jauh.

Kita mempunyai semboyan. “Kita berangkat dari kesederhanaan untuk menuju kesempurnaan.” Ya, itu lah moto kami. Kita benar- benar berangkat dari kesederhanaan.

Lomba pun di mulai, kami mempersembahkan hal yang terbaik dari yang kami punya. Tapi apalah daya, mungkin karena kurang persiapan, kita tidak dapat menampilkan yang maksimal. Sehingga kami harus pulang dengan kekalahan. Tapi ini menjadi pelajaran bagi kami dan tidak membuat kami putus asa. Karena ini adalah pengalaman pertama kami.

Doa

Tuhan, terimakasih engkau telah memberkati saya selama latihan dan didalam perjalanan. Terimakasih juga engkau telah memberikan kepada saya pengalaman yang sangat berharga didalam liburan ini. Saya sangat bersyukur dapat mengalami semua ini. Bantu dan bimbinglah kami, agar kami dapat menjadikan kekalahan kami sebagi kunci dari kesuksesan kami. Amin.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: